..Sebuah Perjalanan ke Desa Baduy itu..
Beberapa tahun yang lalu, saya sempat berkunjung ke desa-desa suku Baduy. Kesan saya saat itu? Takjub, terkesan, dan bersyukur.
Lho? Kok bisa? Ya, saya takjub, ternyata di jaman sekarang ini, masih ada suku yang masih kuat dalam memegang adat-istiadat mereka. Saya terkesan karena suku ini menerapkan aturan yang ketat mengenai bagaimana mengolah alam dan menjaganya. Dan saya bersyukur, karena saya masih sempat menyaksikan keragaman budaya di Indonesia ini.
Suku Baduy, merupakan salah satu suku Sunda Kuno yang bermukim di kaki Gunung Kendeng, Rangkas Bitung, Banten. Saat saya mengunjungi desa-desa ini, saya dan teman-teman harus menghabiskan sekitar 1/2 hari perjalanan hanya untuk mencapai 3 desa suku Baduy. Padahal desa suku Baduy terdiri dari 3 desa suku Baduy dalam, dan lebih dari 5 desa suku Baduy luar. Nah, Anda tahu saya menempuh perjalanan mencapai desa suku Baduy dengan apa? By-foot! Alias jalan kaki, menaiki bukit dan menuruni lembah, sambil bawa-bawa bekel dan rantang di tas.. Hahahaha.. It’s so interesting anyway..
Ya, tapi perjalanan itu setimpal dengan pengalaman yang didapat. Keasrian alam yang ada disana, ajaran adat mereka, dan pengalaman berbincang-bincang dengan penduduk setempat sangat berkesan untuk saya.
Oh ya, menurut kepercayaan yang mereka anut, mereka mengaku sebagai keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. yang mempunyai tugas bertapa untuk menjaga harmoni dunia. Jadi, kalau Anda perhatikan (kalau Anda berkunjung ke sana), walaupun disana tidak ada tempat sampah, tapi kondisi alam sangat terjaga. Tidak ada satupun sampah organik, seperti sampah makanan, sisa-sisa produksi golok, dan sebagainya yang dibiarkan terbengkalai mengonggok menjadi sampah.
Oh ya, saya jadi berpikir sejenak, kalau mereka mengenal Nabi Adam, berarti ada yang sempat memperkenalkan ajaran Islam atau Kristen pada mereka bukan? Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka mengenal nama ini (Nabi Adam -red) dalam ajaran adat-istiadat dan kepercayaan mereka?
Kembali berbicara soal kondisi alam di desa-desa Baduy dan aturan-aturan yang mereka pegang. Mereka berpendapat bahwa jika mereka harus ‘merusak’ alam untuk keperluan sandang, pangan, papan mereka. Mereka harus ‘menggantinya’ dengan menanam tanaman baru. Hmm.. seandainya hal ini diterapkan pada pemerintahan kota, tentu kota-kota di Indonesia tidak akan segersang seperti sekarang, polusi dapat ditekan, dan mungkin global warming juga bisa dikurangi efeknya.
Nah, terlepas dari hal itu, suku Baduy sendiri terbagi menjadi 2 kelompok besar. Ada suku Baduy dalam, dan ada suku Baduy luar. Baduy luar sedikit lebih modern dari suku Baduy dalam. Mereka masih diperbolehkan menggunakan teknologi seperti lampu minyak, pisau yang dibeli dari luar, dsb. Bahkan beberapa kerajinan mereka dibuat untuk dipasarkan ke pengunjung yang datang. Seperti gelang, golok, caping (semacam topi), dan sebagainya.
Berbeda halnya dengan suku Baduy dalam yang benar-benar menggunakan kekayaan alam untuk membuat teknologi mereka sendiri. Mereka menggunakan kelapa untuk membuat ‘lilin’, membuat golok sendiri, menggunakan bambu untuk mengambil air, dsb. Perbedaan yang terlihat jelas dari kedua kelompok ini adalah warna baju yang digunakan oleh mereka. Suku baduy dalam menggunakan baju berwarna putih, sedangkan suku baduy luar menggunakan baju berwarna hitam.
Hmm.. saya jadi berpikir, apa di luar sana masih banyak ya suku-suku yang masih kuat memegang nilai-nilai seperti ini? Rasa-rasanya kekayaan budaya dan keindahan alam di Indonesia sangat menarik untuk dijelajahi dan dieksplorasi untuk sebuah petualangan yang menarik. Hal inilah yang membuat saya selalu menyempatkan diri untuk menjelajahi alam Indonesia saat liburan bersama teman-teman saya.
Kota-kota di luar negeri memang sangat menarik, banyak pelajaran yang bisa diambil, baik dari sisi regulasi, arsitektur, teknologi, dsb. Tapi alam Indonesia? Terlalu sayang untuk dilewatkan dan terlalu indah untuk diacuhkan..
















mantap…. kapan tuh Rang’? acara apa? wah asik banget… gue pengen banget ke baduy, baru pernah ke kampung naga dua kali, itu pun gak nginep, pengen sekali-kali nginep disana… yoo!!! hahaha….
hmm.. kira-kira 2 tahun yang lalu jap. hehehe.. main-main lah kesana.. rame kok.. Arsitektur vernakuler yang biasa cuma dibahas si Bu Indah, bisa dilihat langsung juga akhirnya.
ckckck.. baduy oh baduy.. perjalanan ekskursi yg berubah menjadi perjuangan bertahan hidup.. hahaha.. btw klo yg mau ke baduy jgn pas musim hujan..
hahaha.. nongol juga kawan senasib seperjuangan dalam dorong mendorong bus (berat) itu kembali ke perkotaan..
hahahha baduy…
kl kesanan lagi bareng lucky pastikan lucky selalu ada di sekitar bus:D
Kesana Baduy kalo pake bus/kereta bisa g bro??
kalo pake bus cuma bisa sampai ‘pintu masuk’ aja, abis itu jalan kaki lagi sekitar 6 jam-an. kalau pake kereta ga bisa..
gw pnah ksanaa ama skul, meskipun melelahkan tp yang pasti seru banget deh!