Ryan, yang mengalahkan ketenaran Ahmad Dhani

•August 3, 2008 • 4 Comments
Hati-hati dengan Kasus Kekerasan dan Pembunuhan

Hati-hati dengan Kasus Kekerasan dan Pembunuhan

Sudah beberapa minggu ini, berita di TV hampir setiap hari mengulas berita tentang Ryan. Mulai dari korban yang jumlahnya masih 5 orang, terus nambah 6 orang, membentuk kesebelasan Jombang.

Hm.. Lucu juga melihat ulasan dan narasi pada berita-berita di berbagai media yang rasa-rasanya mulai ‘didramatisir’ :

‘Ryan..oh..ryan..Engkau begitu hebatnya, sampai-sampai bisa mengalahkan berita mengenai kasus korupsi para pejabat, atau para calon presiden 2009..’

Ya, begitulah kira-kira narasi yang ada di Metro TV kemarin malam ini. Lucu, geli, sedih, dan bingung saya dibuatnya.

Tidak, saya tidak mau membahas mengenai Ryan. Sudah terlalu banyak berita dari media yang menceritakan mengenai hal ini. Nanti yang terjadi saya cuma copy-paste artikel koran, plus nyantumin sumber saja. Yang mau saya bahas disini adalah : Kenapa ya, kasus mutilasi yang dilakukan Ryan bisa ‘mengalahkan’ berita-berita mengenai kasus korupsi para pejabat, berita kematian salah satu tokoh bangsa, berita seputar pemilu 2009, bahkan sampai-sampai gosiptainment pun membahas berita tentang Ryan.

Yang paling dahsyatnya, berita mengenai kasus sidang perceraian Ahmad Dhani-Maia, dan Mayang sari pun kalah ‘popularitas’. Kenapa ya? Mari kita lihat beberapa kemungkinannya :

  1. Kasus mutilasi pada tahun ini menyamai jumlah kasus mutilasi 3 tahun yang lalu, namun kali ini hanya dalam setengah tahun saja, jumlah kasus mutilasi sudah mencapai angka 9 kasus.
  2. Orang-orang sudah bosan dengan berita kasus korupsi para pejabat yang seperti benang kusut. Ketahuan tim KPK bulan A, tapi sampai bulan J pun sidangnya ndak beres-beres. Contohnya : Al-Amin N, beliau ini sudah mulai disidangkan dari bulan April, tapi sampai sekarang putusannya belum turun-turun juga. Beritanya? Ya itu, masih dalam proses..
  3. Orang-orang bosan dengan alur berita gosiptainment yang begitu-begitu saja. Monoton, dan beritanya itu-itu saja.. Kalau bukan Ahmad Dhani, ya Mayang. Kalau bukan Mayang, ya sudah pasti Ahmad Dhani. Halah..
  4. Berita seputar isu Pemilu 2009 belum terlalu gencar dipublikasikan, sehingga orang-orang belum tertarik untuk mengikuti perkembangan berita ini yang relatif masih adem-ayem.
  5. Ini cuma ‘trend’ sesaat saja. Dalam waktu dekat, setelah korban tidak bertambah lagi, maka kasus ini akan kembali sepi pengunjung, dan orang-orang akan mulai kembali ke ‘rutinitas’nya. Berita kasus korupsi, berita seputar Pemilu 2009, dan tentunya.. Gosiptainment!

Nah, bagaimana menurut Anda? Apa ada argumen lain yang bisa menjelaskan kenapa Ryan bisa mengalahkan berita-berita lainnya?.. Oh iya, begitu dahsyatnya orang ini (Very Idham, alias Ryan) dalam ‘membuat berita’, sampai-sampai di wikipedia pun sudah ada berita mengenai dirinya. Coba deh, cek disini.

- Gambar diambil dari sini -

Plugin cForms pada WordPress

•August 1, 2008 • 4 Comments

cforms is a highly customizable, flexible and powerful form builder plugin, covering a variety of use cases and features from attachments to multi form management, you can even have multiple forms on the same page!

Yap, sebelumnya saya pernah membahas bagaimana cara membuat halaman contact yang berisikan form pengiriman e-mail pada wordpress. Nah, pertanyaannya adalah : Apakah cara ini juga bisa diterapkan pada web dengan domain pribadi, namun juga menggunakan wordpress?

Sayangnya, hal tersebut tidak bisa dilakukan. Entah kenapa, tapi yang pasti saya sudah mencoba hal ini, namun selalu menemui kebuntuan.

Lalu bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah dengan membuat form/script sendiri dengan menggunakan tag HTML dan Javascript. Cara ini tentu sedikit lebih sulit, tapi tenang saja, masih ada cara lain yang lebih mudah, yaitu dengan menggunakan plugin yang disediakan untuk wordpress. Plugin tersebut adalah cForms.

cForms merupakan plugin yang memungkinkan kita untuk membuat form e-mail, komentar, bahkan menyisipkan image verification pada wordpress secara mudah. Berikut step-by-step untuk menginstall plugin ini pada site admin Anda :

  1. Download plugin ini, dan upload pada folder /plugins Anda
  2. Install plugin ini dengan memilih menu Plugins yang terletak pada sisi kanan tampilan Site Admin
  3. Aktifkan plugin ini dengan memilih opsi Activate
Menu cForms yang telah terinstall

Menu cForms yang telah terinstall

Setelah Anda mengaktifkan plugin ini, Anda dapat melihat dan mengatur plugin ini pada menu yang tersedia disebelah menu-menu Write | Manage |…

Anda dapat dengan mudah membuat form-form lainnya disini. Anda juga dapat memasukkan form yang telah selesai dibuat dengan, menulis sebuah halaman baru, dan memilih menu ini pada menu pengeditan tulisan.

Pilihan untuk menggunakan fitur cForms

Pilihan untuk menggunakan fitur cForms

Salah satu keuntungan lainnya adalah, menu ini akan otomatis terinstall pada menu widget template wordpress. Jadi, kita bisa menyisipkan fitur atau form tertentu pada sidebar web kita. Yap, sekian saja info untuk hari ini :) Selamat mencoba..

Peran Media sebagai Medium Pembelajaran

•August 1, 2008 • 1 Comment

Sebelumnya, saya ingin memulai cerita ini dengan meneruskan cerita tentang perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu lalu. Saat itu saya berkunjung kesana untuk berlibur dan mengamati arsitektur bangunan disana.

Salah satunya daerah yang membuat saya terkesan adalah Putrajaya. Ya, kompleks pemerintahan Malaysia ini, sangat menarik untuk dikunjungi. Arsitektur bangunan dan perancangan ruang luar yang menarik membuat saya melupakan panasnya terik matahari yang menyengat dan terus menerus memotret objek-objek arsitektur yang sangat menarik.

Saya di kompleks Putrajaya, Malaysia

Saya di kompleks Putrajaya, Malaysia

Nah, terlepas dari hal ini, ada sebuah pengalaman yang cukup menarik untuk dicermati saat saya berada disana.

Saya teringat bahwa sebelum saya berangkat ke sana, media-media di tanah air kita ini, kerap kali menayangkan ‘keburukan’ orang-orang di negeri itu. Kekerasan fisik, pelecehan seksual, penghinaan, pencurian hak paten, dsb seringkali disuguhi untuk dikonsumsi.

Namun, saat saya datang kesana, apa hal ini yang terjadi? Ternyata tidak. Mereka sangat ramah, bahkan mereka berulang kali mengatakan bahwa ‘kita’ ini adalah saudara serumpun. Kita ini sama-sama orang Melayu.. Itulah yang selalu mereka ungkapkan..

(mereka disini merujuk pada teman saya dan beberapa orang Malaysia yang mengobrol dengan saya)

Saat saya sedang berkunjung ke Putrajaya, saya bahkan sempat diantar berkeliling oleh seorang supir bis yang bernama Mahmud. Ia juga bahkan sempat keluar dari trayek bis, hanya untuk menunjukkan pada saya yang meminta apakah bisa melihat beberapa tempat tertentu.

Saat itu, saya kemudian berpikir : Kenapa selama ini, beberapa media lebih sering menonjolkan hal-hal yang negatif mengenai mereka? Bukankah tiap negara pasti memiliki ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’, ‘hal baik’ dan ‘hal buruk’?

Saat itu, saya jadi teringat ucapan salah satu teman saya yang notabene mantan presiden KM ITB, bahwa saat ini media terkadang memiliki muatan politis tertentu dalam memberitakan suatu hal. Terkadang sulit untuk melihat maksud mereka yang sebenarnya. Di satu sisi, media berperan banyak dalam hal pencerdasan nasional, namun disisi lain tidak sedikit pula media yang hanya mencari popularitas sesaat dengan memberitakan berita yang kebenarannya diragukan atau tanpa argumen yang kuat.

Begitu pula dengan isu ‘pencurian’ hak paten. Bukankah mereka memang mematenkan hak paten terhadap batik, wayang kulit, dsb? Ya, memang benar! Suatu ketika, saya sempat berbincang-bincang dengan Hatta Radjasa, Mensesneg RI mengenai hal ini.

Beliau mengatakan pada saya bahwa Ia juga kesal terhadap hal ini. ‘Orang Indonesia mana yang tidak marah melihat kekayaan negaranya ‘dicuri’ oleh negara lain?’ Itulah hal yang ia katakan pada saya saat itu.

Tapi ia berkali-kali mengingatkan bahwa kita haruslah melihat hal ini dan pemberitaan media dengan kepala dingin dan lebih bijak. Ia memang menyesali kesalahan yang telah dibuat oleh kita sehingga kita ‘telat’ dalam melangkah. Namun, jika kita pikirkan sejenak, apa yang mereka patenkan itu hanyalah ‘produk’ saja.

Misalnya saja, dalam hal batik. Batik Indonesia, dan batik Malaysia sudah tentu memiliki pola pembuatan dan corak yang berbeda. Jadi, pada dasarnya tidak mungkin mereka mematenkan semua pola pembuatan batik atau corak batik, yang notabene teknik pembuatannya dan corak-coraknya sangat beragam. Yang bisa mereka patenkan ‘hanyalah sebuah pola batik Malaysia’. Hal ini menyadarkan saya, bahwa kita harus berhati-hati dalam menyerap berita dalam media-media. Kita tidak boleh emosi sesaat tanpa menelaah lebih lanjut mengenai hal ini.

Ya, beberapa media yang terkadang kurang informatif dan kurang menggunakan data-data yang akurat dalam mengulas sebuah berita, acapkali membuat kita memiliki persepsi negatif terhadap suatu hal dan membuat kita emosi tanpa menelaah lebih lanjut kebenaran berita dan fakta yang sesungguhnya..

Saya teringat, suatu ketika teman saya pernah mengatakan pada saya : ‘Ga, emang lo ga tahu kalo mereka (orang Malaysia) punya forum yang menjelek-jelekkan negara kita?’ Nah, yang bisa saya katakan adalah : ‘Iya, tapi lo tahu ga, kalo orang Indonesia juga seringkali menjelek-jelekkan mereka di forum tertentu?’

Teman saya hanya terdiam. Entah kenapa ia begitu emosi terhadap negara tetangga kita itu. Apa karena ia emosi melihat pemberitaan di media-media, atau karena tulisan-tulisan pada forum itu? Bukankah mereka boleh saja menjelek-jelekkan kita atau memiliki suatu pendapat tertentu. Tapi apa kita harus membalasnya dengan menjelek-jelekkan mereka ? Bukankah lebih baik jika kita meningkatkan kualitas kita, sehingga mereka tidak bisa lagi berbuat seperti itu?

Ya, pada dasarnya, tanpa disadari, media memegang peranan yang sangat penting dalam pencerdasan nasional. Misalnya saja, saya sangat menyukai konten dan editorial pada Media Indonesia dan Tempo yang kritis dan berdasarkan fakta-fakta dalam membahas suatu hal tertentu. Namun tidak sedikit pula, media yang memiliki konten yang bersifat provokatif dalam membahas suatu hal..

Ah, yang pasti, peran media sebagai sebuah medium pembelajaran sebaiknya tidak dilupakan oleh media dan para jurnalis, agar orang-orang Indonesia dapat bergerak ke arah lebih maju dan memiliki pikiran yang lebih terbuka ke depannya, bukannya malah jadi tertutup dan cenderung skeptis terhadap suatu hal..

..Sebuah Perjalanan ke Desa Baduy itu..

•August 1, 2008 • 7 Comments

Desa Cikeusik

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat berkunjung ke desa-desa suku Baduy. Kesan saya saat itu? Takjub, terkesan, dan bersyukur.

Lho? Kok bisa? Ya, saya takjub, ternyata di jaman sekarang ini, masih ada suku yang masih kuat dalam memegang adat-istiadat mereka. Saya terkesan karena suku ini menerapkan aturan yang ketat mengenai bagaimana mengolah alam dan menjaganya. Dan saya bersyukur, karena saya masih sempat menyaksikan keragaman budaya di Indonesia ini.

Suku Baduy, merupakan salah satu suku Sunda Kuno yang bermukim di kaki Gunung Kendeng, Rangkas Bitung, Banten. Saat saya mengunjungi desa-desa ini, saya dan teman-teman harus menghabiskan sekitar 1/2 hari perjalanan hanya untuk mencapai 3 desa suku Baduy. Padahal desa suku Baduy terdiri dari 3 desa suku Baduy dalam, dan lebih dari 5 desa suku Baduy luar. Nah, Anda tahu saya menempuh perjalanan mencapai desa suku Baduy dengan apa? By-foot! Alias jalan kaki, menaiki bukit dan menuruni lembah, sambil bawa-bawa bekel dan rantang di tas.. Hahahaha.. It’s so interesting anyway..

Ya, tapi perjalanan itu setimpal dengan pengalaman yang didapat. Keasrian alam yang ada disana, ajaran adat mereka, dan pengalaman berbincang-bincang dengan penduduk setempat sangat berkesan untuk saya.

Oh ya, menurut kepercayaan yang mereka anut, mereka mengaku sebagai keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. yang mempunyai tugas bertapa untuk menjaga harmoni dunia. Jadi, kalau Anda perhatikan (kalau Anda berkunjung ke sana), walaupun disana tidak ada tempat sampah, tapi kondisi alam sangat terjaga. Tidak ada satupun sampah organik, seperti sampah makanan, sisa-sisa produksi golok, dan sebagainya yang dibiarkan terbengkalai mengonggok menjadi sampah.

Oh ya, saya jadi berpikir sejenak, kalau mereka mengenal Nabi Adam, berarti ada yang sempat memperkenalkan ajaran Islam atau Kristen pada mereka bukan? Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka mengenal nama ini (Nabi Adam -red) dalam ajaran adat-istiadat dan kepercayaan mereka?

Kembali berbicara soal kondisi alam di desa-desa Baduy dan aturan-aturan yang mereka pegang. Mereka berpendapat bahwa jika mereka harus ‘merusak’ alam untuk keperluan sandang, pangan, papan mereka. Mereka harus ‘menggantinya’ dengan menanam tanaman baru. Hmm.. seandainya hal ini diterapkan pada pemerintahan kota, tentu kota-kota di Indonesia tidak akan segersang seperti sekarang, polusi dapat ditekan, dan mungkin global warming juga bisa dikurangi efeknya.

Desa suku Baduy luar

Desa suku Baduy luar

Nah, terlepas dari hal itu, suku Baduy sendiri terbagi menjadi 2 kelompok besar. Ada suku Baduy dalam, dan ada suku Baduy luar. Baduy luar sedikit lebih modern dari suku Baduy dalam. Mereka masih diperbolehkan menggunakan teknologi seperti lampu minyak, pisau yang dibeli dari luar, dsb. Bahkan beberapa kerajinan mereka dibuat untuk dipasarkan ke pengunjung yang datang. Seperti gelang, golok, caping (semacam topi), dan sebagainya.

Berbeda halnya dengan suku Baduy dalam yang benar-benar menggunakan kekayaan alam untuk membuat teknologi mereka sendiri. Mereka menggunakan kelapa untuk membuat ‘lilin’, membuat golok sendiri, menggunakan bambu untuk mengambil air, dsb. Perbedaan yang terlihat jelas dari kedua kelompok ini adalah warna baju yang digunakan oleh mereka. Suku baduy dalam menggunakan baju berwarna putih, sedangkan suku baduy luar menggunakan baju berwarna hitam.

Hmm.. saya jadi berpikir, apa di luar sana masih banyak ya suku-suku yang masih kuat memegang nilai-nilai seperti ini? Rasa-rasanya kekayaan budaya dan keindahan alam di Indonesia sangat menarik untuk dijelajahi dan dieksplorasi untuk sebuah petualangan yang menarik. Hal inilah yang membuat saya selalu menyempatkan diri untuk menjelajahi alam Indonesia saat liburan bersama teman-teman saya.

Kota-kota di luar negeri memang sangat menarik, banyak pelajaran yang bisa diambil, baik dari sisi regulasi, arsitektur, teknologi, dsb. Tapi alam Indonesia? Terlalu sayang untuk dilewatkan dan terlalu indah untuk diacuhkan..

Sinetron = Pembodohan Nasional?

•August 1, 2008 • 3 Comments

Hmm.. kalau diperhatikan, sekarang ini tayangan sinetron sangat menggila jam tayangnya. Terutama mulai pk. 16:00 – 22:00 WIB.

Selama 6 jam itu, hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron dengan berbagai judul. Tiap sinetron pun memiliki durasi yang beragam. Ada yang 1 jam, 1 1/2 jam, bahkan ada yang 2 jam.

Nah, bayangkan kalau Anda punya sinetron favorit pada 6 jam tersebut. Jika saya asumsikan, kita tidur selama 6 jam setiap harinya, maka 1/3 waktu yang ada bisa dihabiskan hanya untuk menonton sinetron. Hal ini yang terjadi pada salah satu saudara saya. Setiap harinya ia memakai 6 jam waktunya untuk menonton sinetron.

Sebenarnya, kalau substansi sinetron-sinetron tersebut baik, saya mungkin tidak terlalu keberatan. Nah, masalahnya, substansi dari sinetron-sinetron tersebut kan sangat kurang. Lha, tujuannya saja untuk menghibur.

Memang sih, tidak semua stasiun televisi menayangkan sinetron. Tapi ya itu, ragam acara yang ditampilkan itu-itu saja. Atau berita yang ditayangkan kebanyakan hanya diulang dari berita siang atau sore hari. Maklum, saya belum memiliki Cable TV, dimana saya dengan puas bisa menonton berita luar negeri yang sudah pasti beragam, atau Discovery Channel yang selalu menayangkan tayangan edukatif yang berbeda-beda, dan kalau bosan bisa nonton film-film atau tayangan olahraga di channel lainnya. (Lho? Kok jadi curhat begini.. ;) )

Ya, intinya.. Kan tidak semua orang memiliki akses ke Cable TV. Dan hampir semua stasiun televisi terlalu bersifat stereotype atau bisa dibilang latah satu sama lain. Yang satu bikin acara ini, yang lain mengikuti.. Yang itu bikin berita A, yang ini ikut-ikutan bikin berita A juga..

Jadi, dengan maraknya tayangan-tayangan ini, sudah pasti secara tidak langsung orang-orang Indonesia yang sedang menonton pun ‘dicekoki’ dengan tayangan sinetron-sinetron itu, yang imbasnya bisa mengurangi produktivitas kerja dan kualitas SDM bangsa ini..

Tarif Murah Operator Selular?

•August 1, 2008 • 2 Comments

Kalau diperhatikan, sejak kemunculan operator CDMA Esia dan dugaan kasus monopoli Temasek yang melibatkan dua operator GSM terbesar di Indonesia, Telkomsel dan Indosat; bisa kita perhatikan jika terjadi perang tarif antara operator-operator selular di Indonesia.

Pertanyaannya sekarang adalah :

Apakah konsumen menjadi diuntungkan atau sebenarnya tetap saja masih dirugikan?

Pada saat ini, saya menggunakan jasa operator Indosat IM3. Bukan apa-apa, hanya saja saya malas harus berganti-ganti kartu perdana untuk HP saya, setiap kali ada penawaran murah dari operator lain. Repot kalau saya harus mengabari semua teman saya, bahwa saya ganti kartu perdana, dan nomor HP.

Nah, sekarang mari kita lihat apakah promo yang diberlakukan oleh operator saya tersebut memang benar adanya. Menurut website resmi IM3, terlihat bahwa IM3 memberikan tarif sebagai berikut (untuk tarif percakapan ke sesama IM3) :

Pk. 00:00 – Pk. 05.00 WIB

  1. Rp. 1,- / telepon – sampai puas,

Pk. 05:00 – Pk. 11:00 WIB

  1. Untuk daerah Jabodetabek dan Jawa, Rp. 240,-/30 detik pertama, dan selanjutnya Rp. 1.- sampai menit ke-4, dan berulang tiap 4 menit.
  2. Untuk daerah Banten, Rp. 240,-/30 detik pertama, dan Rp. 1,- setelah lewat 30 detik pertama sampai puas (katanya)
  3. Untuk daerah luar Pulau Jawa, Rp. 88,-/11 detik pertama, dan Rp. 1,- setelah lewat 11 detik pertama sampai puas (katanya)

Pk. 11:00 – Pk. 17:00 WIB

  1. Untuk daerah Jabodetabek dan Jawa, Rp. 1350,-/90 detik pertama, dan selanjutnya Rp. 1.- sampai menit ke-10, dan berulang tiap 10 menit.
  2. Untuk daerah Banten, Rp. 1350,-/90 detik pertama, dan Rp. 1,- setelah lewat 90 detik pertama sampai puas (katanya)
  3. Untuk daerah luar Pulau Jawa, Rp. 900,-/60 detik pertama, dan Rp. 1,- setelah lewat 60 detik pertama sampai puas (katanya)

Pk. 17:00 – Pk. 00:00 WIB

  1. Untuk daerah Jabodetabek dan Jawa, Rp. 1800,-/120 detik pertama, dan selanjutnya Rp. 1.- sampai menit ke-10, dan berulang tiap 10 menit.
  2. Untuk daerah Banten, Rp. 1800,-/120 detik pertama, dan Rp. 1,- setelah lewat 120 detik pertama sampai puas (katanya)
  3. Untuk daerah luar Pulau Jawa, Rp. 1800,-/120 detik pertama, dan Rp. 1,- setelah lewat 120 detik pertama sampai puas.

Tarif SMS IM3 ke sesama IM3 :

  1. Pada pk.00:00-05:00 WIB, tarif yang diberlakukan adalah Rp.1,-/sms. Sedangkan pada pk.05:00-00:00, tarif yang diberlakukan adalah Rp.100,-/sms.

Nah, berarti, jika saya menelpon selama 4 menit, pada pk. 9.00 WIB, maka saya hanya menghabiskan pulsa sebesar : Rp. 240,- untuk 30 detik pertama, dan Rp. 1,-. Total pulsa yang harus saya sediakan adalah Rp. 241,-.

Namun, apa yang terjadi ketika saya mencobanya? Saya mencatat, ketika saya menelepon teman saya yang berada di Jakarta selama kurang dari 4 menit, saya harus menghabiskan pulsa sebesar Rp. 1850,-.

Lho? Kemana perginya ya selisih Rp. 1609,- itu? Entahlah. Terus, bagaimana dengan promo Rp. 1,-/telepon pada dini hari? Yap, kalau yang ini memang terbukti benar adanya. Saya menelepon teman saya selama 15 menit, dan pulsa saya hanya habis Rp. 1,-.

Eits, jangan senang dulu. Untuk bisa tersambung dengan telepon selular teman Anda yang notabene IM3 juga, susahnya bukan main!

Saya memaklumi, bahwa pada pagi hari, mungkin bandwidth yang diberikan oleh operator ini pasti dibatasi, agar penggunaan jasa operator ini tidak menggila. Tapi, yang saya sesali, kan tidak semua orang yang menelpon pada jam tersebut hanya untuk keperluan tidak penting saja, misalnya pacaran atau lainnya.

Sempat suatu ketika, saat saya hendak balik ke rumah sekitar jam 1 pagi, motor saya mengalami kerusakan sehingga mogok, namun saat saya harus menghubungi adik saya untuk meminta bantuan (dimana adik saya juga menggunakan operator yang sama), saya harus mencoba menghubungi selama 30 menit sebelum akhirnya tersambung. Alasannya? Network busy..

Nah, jadi sebenarnya apa yang sedang terjadi disini? Apakah ini disebabkan oleh sistem billing yang belum sempurna? Apa karena tiap beberapa bulan, ada saja pergantian tarif yang diberlakukan? Entahlah.. Yang pasti, terkadang saya merasa diuntungkan, tapi sering juga saya merasa dirugikan karena hal ini.

Yah, pada dasarnya saya tidak bisa menggeneralisasi semua operator sama seperti ini. Beberapa operator memang memberlakukan tarif yang sesuai dengan yang diiklankan. Tapi ya, tetap saja seringkali ada kendala juga. Susah mendapatkan sinyal, network busy, SMS pending, dsb.

Kapan ya operator-operator selular kita memiliki kondisi yang ’stabil’, ya ’stabil’ tarifnya, ya ’stabil’ jaringannya? Hmm…

Membuat halaman contact-me pada wordpress

•July 30, 2008 • 3 Comments

Beberapa teman saya mengeluhkan sulitnya membuat halaman contact-me/contact the author pada wordpress. Selain dikarenakan wordpress tidak mengijinkan pengguna layanan wordpress menggunakan javascript, beberapa orang tidak terbiasa untuk menggunakan tag HTML atau Javascript untuk membuat sebuah form contact. Akhirnya beberapa dari mereka membuat link mailto:xyz@blablabla.com, sayang sekali, hal ini tentu sedikit menyulitkan pengunjung yang ingin mengirimkan e-mail pada si empunya blog.

Ah, tapi jangan khawatir. WordPress sudah menyediakan fitur ini. Bahkan pembuatannya sangatlah mudah. Anda cukup menuliskan :

[ contact - form ]

pada sebuah halaman baru di wordpress. Oh ya, jangan menuliskan tag tersebut dengan spasi, saya menambahkan spasi, agar wordpress tidak menyangka saya ingin membuat form pada postingan ini. :) Buatlah sebuah judul ‘Contact the Author’ atau yang lainnya, sesuai keinginan Anda, maka sebuah halaman untuk mengirimkan e-mail pada si empunya blog pun langsung dibuat secara otomatis. Oh ya, saya pun sudah menyediakan layanan ini pada sisi menu di bagian paling atas blog ini. Untuk info lebih lengkapnya, silakan klik link ini. Semoga berhasil. :)

Belajar mengintegrasikan Flash kedalam WordPress di TVWOnline

•July 30, 2008 • 2 Comments

Kalau Anda mempunyai plugin flash yang terintegrasi dengan browser Anda, coba Anda buka link ini. TVWOnline merupakan salah satu web yang menggunakan wordpress, namun jika Anda perhatikan semua contentnya digunakan dengan menggunakan Adobe Flash. Hmm.. menarik bukan?

Ya, saat ini WordPress, merupakan salah satu Blog/CMS template yang mulai banyak digunakan dalam pembuatan website. Selain mudah manajemennya, CMS ini juga cukup user friendly. Anda dapat dengan mudah mengatur artikel mana yang bisa dikomentari, serta artikel mana yang tidak bisa dikomentari. Sangat cocok bukan untuk membuat web jurnal atau koran online? Selain itu Anda juga dapat dengan mudah mengintegrasikan web ini dengan feed reader atau widget yang tersedia di internet, karena template yang disediakan kebanyakan memang sudah support akan hal ini. Plugin-plugin yang tersedia juga cukup banyak, mulai dari shoutbox, anti-spam, anti hotlinking, dan sebagainya. Saya rasa, hal inilah yang menyebabkan WordPress cukup banyak digunakan sebagai media untuk pembuatan sebuah website. :)

Nah, Tim Wilson, sang pemilik website ini (tvwonline) juga menjelaskan bagaimana proses pembuatan web ini dengan menggunakan Adobe Flash. Anda dapat mempelajari hal ini disini. Jadi, bagi Anda yang hobi ngoprek website ini, Anda dapat bereksplorasi lebih lanjut dengan mencoba apa yang disebutkan oleh om yang satu ini. :)

- Tadinya mau buat review dalam bahasa Inggris, tapi karena kondisi badan lagi tidak baik, saya jadi kesulitan untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hal ini. Maklum bahasa Inggris saya masih pas-pasan ) . Judul postingan ini pun saya ubah ke bahasa Indonesia, agar tidak terjadi pembodohan publik, judul Inggris, tapi isi Indonesia. :) -