Microsoft Bloggership 2010: Teknologi – Menjauhkan Yang dekat, Mendekatkan Yang Jauh
December 15th, 2010 § 2 Comments
“You’ve got 1 message.”
Begitu pesan sebuah notifikasi yang muncul di layar komputer saya. Siapa ini? Tanya saya dalam hati.
“Mas, saya mau nanya tentang cara bla..bla..bla…”
Ah, rupa-rupanya sang pengirim hendak menanyakan cara melakukan instalasi SQL Server yang benar. Rupa-rupanya, ia membaca salah satu blog teknikal yang saya miliki. Ia telah mencoba melakukan sesuai langkah-langkah yang saya berikan, tapi ada kendala yang mengusiknya di tengah-tengah proses yang dijalaninya.
Setelah saya usai membalas email tersebut, saya pun berpikir: “Perkembangan teknologi saat ini memang luar biasa”. Dalam hitungan detik, kita bisa berkomunikasi dengan berbagai macam orang dari berbagai belahan dunia. Bandingkan dengan jaman saya kecil dulu. Untuk mengirim sebuah kartu pos dari Indonesia ke negeri Paman Sam, setidaknya dibutuhkan waktu seminggu.
Itu pun sudah menggunakan pos kilat.
Cermin teknologi masa lalu seperti demikian terkadang membuat saya rindu akan suasana seperti itu. Dulu, ketika pak pos datang dan mengatakan: “Ada kiriman untuk Rangga”, luar biasa senangnya perasaan saya. Entah apa yang membuat perasaan saya senang.
Konon, lumayan seringnya saya bertukar kabar dengan teman-teman saya melalui kartu pos, saya pun terjebak dalam dunia filateli. Setiap kantor pos mengabarkan akan mengadakan sebuah pameran filateli, biasanya saya pasti sudah menabung jauh-jauh hari.
“Siapa tahu ada perangko menarik yang bisa saya beli.” -pikir saya.
Ketika saya menginjak jenjang sekolah menengah pertama, Internet mulai masuk ke tanah Indonesia. Koneksinya masih lambat. Waktu yang dibutuhkan untuk membuka satu halaman web mungkin setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk memasak Indomie, lengkap dengan telur mata sapi yang melengkapi sajian itu.
Saya masih ingat, waktu itu masih jaman-jamannya telkomnet instan. Lagu yang didendangkan di media elektronik begitu khas: “0…8…0…9…8…9 empat kaliiii….”.
Rasa-rasanya, kalau ada soal ujian yang diberikan oleh salah satu badan pemerintahan yang menanyakan apa isi lirik lagu telkomnetinstan beberapa tahun yang lalu, saya yakin pasti bisa menjawab dengan tepat.
Ironisnya, teknologi yang membuat segala urusan pekerjaan dan komunikasi menjadi lebih mudah, terkadang justru berbanding terbalik dengan penyaluran energi sosial masyarakat.
Jika 20 tahun yang lalu, mainan rakyat jelata macam saya seperti pris-prisan, bal-balan, bola gebok menjadi ‘koleksi’ mainan saya setiap pulang sekolah; maka sekarang ini ada mainan tersebut digantikan game online semacam Warcraft, DotA, dan segudang mainan online lainnya.
Pemainnya cukup duduk di depan komputer, install permainannya, sambungkan komputer dengan Internet atau jaringan komputer, maka Anda pun dapat langsung bermain tanpa harus saling bertatap muka dengan teman mainnya.
Padahal, berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah dan bahasa tubuh tertentu boleh jadi lebih manusiawi ketimbang duduk bersebelahan namun sama sekali tidak bertegur sapa.
Jika dahulu kala, sembari menunggu anak-anaknya selesai main, para orangtua biasanya sibuk bercengkerama dan membahas mengenai masa depan anaknya. Mau lanjut sekolah kemana, gimana nilai ulangan anaknya, bertukar resep masakan, dan segudang obrolan lainnya. Maka sekarang, sebagian dari mereka lebih sibuk membahas gosip selebritas, sinetron, dan aktivitas-aktivitas ‘sosial’ lainnya.
Rasa-rasanya cukup menarik jika kita melihat perilaku sebagian masyarakat yang keranjingan teknologi saat ini. Coba sesekali waktu Anda pergi ke kafe yang menyediakan akses Internet:
Ah, tiga orang yang tengah duduk menikmati kopi itu sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing. Sesekali waktu ia membuka facebook, sesekali membalas pesan YM, sesekali pula meracau di media Twitter.
Lho, pasangan yang itu lebih unik lagi. Duduk bersebelahan, tapi malah sibuk dengan BB-nya masing-masing.
Mungkin hal ini biasa Anda temui di tempat-tempat tersebut. Merasa aneh? Jangan. Nanti malah Anda yang dikira kuper dan ndak gaul. Itu fenomena biasa di jaman sekarang ini!
Tidak Semuanya Negatif, kok!
Tentunya fenomena sosial yang tumbuh berkembang akibat perkembangan teknologi tidaklah sepenuhnya buruk.
Seperti halnya saya. Saya selalu merasa bersyukur dengan perkembangan teknologi saat ini. Email yang saya terima, menjadi salah satu barometernya: “Ah, ilmu yang saya bagikan ternyata bisa bermanfaat bagi orang lain.”
Itu sebuah kesenangan dan kepuasan tersendiri buat saya.
Belum lagi, segudang komunitas sosial online yang mulai tumbuh berjamuran dimana-mana. Inisiatif, kreativitas, dan perkembangan teknologi yang membuka jalannya.
Program-program semacam Blood4Life atau Coin a Chance merupakan beberapa contoh nyata dari pemanfaatan teknologi yang baik. Anak-anak yang putus sekolah atau tidak mampu menebus sertifikat ijazah SMAnya bisa diselamatkan. Pasien yang membutuhkan donor darah bisa mendapatkan transfusi darah dalam hitungan jam.
Guru pun tak mau kehabisan ide. Melihat murid-muridnya keranjingan Internet. Ia pun memanfaatkan media Multiply bagi murid-muridnya mengakses modul-modul pelajaran sekolah. Hendak belajar mengenai teknologi informasi? Situs-situs semacam ilmukomputer.org, geeks, dan beberapa jejaring komunitas lainnya bisa menjadi pilihan.
Melihat contoh-contoh tersebut, rasa-rasanya terdapat cukup banyak energi positif yang bisa disalurkan melalui pemanfaatan teknologi.
Wikipedia, misalnya. Situs ensiklopedia online ini dibangun berdasarkan kekuatan komunitas. 13.000 kontributor aktif yang menyalurkan tenaganya secara ‘cuma-cuma’ mampu membuat dan mengerjakan 7.000.000 artikel yang diterjemahkan kedalam lebih dari 250 bahasa.
Jika, melalui sebuah artikelnya, sebuah media cetak elektronik menngabarkan bahwa pengguna Internet di Indonesia berjumlah 45 juta orang. Maka, hal ini bisa berarti: Jika satu orang menyumbangkan sebuah artikel ensklopedia online, maka Indonesia pun bisa memiliki 45 juta artikel ensiklopedia online. Jumlah yang bahkan mengalahkan jumlah artikel wikipedia.
Dan jika satu orang pengguna Internet tergerak untuk menyumbangkan koin bernilai seratus rupiah dalam setiap bulannya untuk program Coin a Chance, maka setiap bulan akan terkumpul dana sebesar 45 juta rupiah. Jumlah yang rasanya cukup besar untuk menyekolahkan ratusan anak Indonesia setiap bulannya.
Ya. Mungkin teknologi (terkadang) bisa menjauhkan yang dekat, namun teknologi pun bisa mendekatkan yang jauh. Semua tergantung penggunanya.
Seperti sebuah pepatah Inggris kuno yang berbunyi: “Where there’s a will, there’s a way”. Jika pengguna teknologi bisa menyalurkan energi sosialnya untuk hal positif, maka bukan tidak mungkin ia dapat melampaui batasan-batasan tertentu.
Jika beruntung, Anda mungkin bisa membantu atau bahkan menyelamatkan nyawa, pendidikan, dan masa depan seseorang serta menambah bekal pahala Anda di hari akhir nanti. *jadi agak lebay*
Tidak lama berselang setelah saya membalas email yang menanyakan cara melakukan instalasi SQL Server, sebuah email balasan masuk.
“You’ve got 1 message.” -isi notifikasi yang (lagi-lagi) muncul di sudut kanan bawah layar komputer saya.
“Mas, caranya berhasil. Terima kasih banyak ya!” -begitulah isi singkat dari email tersebut.
Ah, sebuah senyum pun tersungging di bibir saya, dan mungkin…senyum itu pun tersungging di bibir sang pengirim pesan yang berhasil menyelesaikan masalahnya. (*)
Alat Itu Bernama Intermittent Wiper
November 26th, 2010 § Leave a Comment
“My name is Dr. Robert Kearns, and I’d like to start by talking to you about ethics. I can’t think of a job or a career where the understanding of ethics is more important than engineering. Who designed the artificial aortic heart valve? An engineer did that. And who designed the gaschambers at Auschwitz? An engineer did that, too. One man was responsible for helping save tens of thousands of lives, another man helped kill millions.”
Perkataan Dr. Robert Kearns yang saya kutip dari film Flash of Genius diatas mungkin terdengar sedikit pongah bagi sebagian orang. Pendapat boleh beda, asal jangan jotos-jotosan.
Sekarang ini, saya lebih tertarik untuk membahas sedikit mengenai film yang dibuat berdasarkan kisah nyata seorang laki-laki bernama Robert Kearns.
Robert Kearns adalah seorang engineer yang menemukan sebuah alat yang dinamakan Kearns Blinking Eye Motor (sekarang lebih dikenal dengan istilah intermittent windshield wiper).
Alkisah, pada tahun 50-an, wiper yang terinstalasi pada mobil tidaklah dapat diatur kecepatannya. Tidak peduli hujan besar, gerimis, hujan moyan, dan hujan-hujan lainnya; kecepatan wiper selalu konstan.
Hal ini menimbulkan ide di benaknya: Kenapa saya tidak membuat wiper yang bisa diatur kecepatannya?
Idenya sederhana: Karena intensitas air hujan itu berbeda-beda.
Kembali lagi ke cerita.
Dikisahkan pada masa itu, produsen mobil besar sekelas Ford atau Chrysler tidak berhasil membuat wiper yang dapat diatur kecepatannya.
“We want you to do it with the engine running. We’ve found that the heat can play havoc with some of the systems we’ve tried.” – ujar salah satu anggota tim R&D Ford dalam salah satu scene film itu.
Dalam scene lainnya, diceritakan pula bagaimana ide Robert Kearnes ‘dicuri’ oleh produsen mobil sekelas Ford dan Chrysler. Hingga akhirnya, setelah perjuangan selama 13 tahun, Robert Kearns pun berhasil memenangkan gugatannya.
Mungkin sebagian dari kita menertawakan apa yang disebut ‘penemuan’ oleh orang ini.
Toh, pada kenyataannya, alat kecil ini sekarang selalu menjadi perangkat standar yang diinstalasi pada 145 juta mobil lebih. Dan, disadari atau tidak, alat kecil yang terpasang pada kaca depan dan belakang mobil ini terbukti cukup mumpuni dikala mobil sedang melaju di tengah terpaan air hujan.
E-book gratis: Bermain Data dengan SQL Server
February 11th, 2010 § 1 Comment
E-book tipis ini bercerita tentang teknologi SQL Server 2005. Tidak terlalu tebal. Mudah-mudahan tidak terlalu rumit untuk dipahami.
Dibuat pada akhir tahun 2009 dan selesai pada awal tahun 2010. Mudah-mudahan berguna bagi yang membutuhkannya.

Secara substansi mungkin masih banyak yang ditambahkan juga diperbaiki. Ya, namanya juga buku perdana.

