Random Thought of the Day

Iseng-iseng ngebuka blog lama, ternyata udah 3 tahun lebih saya nggak pernah nge-blog lagi. Padahal, di 3 tahun terakhir ini, lumayan banyak fase baru yang saya jajaki. Salah satunya adalah bekerja di ibukota yang membuat saya punya skill baru, yaitu MERAMAL (salah memprediksi kapan harus berangkat atau salah memprediksi arus lalu lintas = semedi di jalanan).

Karena sedikit penasaran, akhirnya saya coba buka link blog temen-temen blogger dulu, ternyata rata-rata udah pada hiatus nge-blog. Mungkin karena kesibukan di real life atau pada hijrah ke socmed (social media) lainnya yang bentuknya lebih ke arah microblogging.

Ngomongin soal yang terakhir, dipikir-pikir lebih enak sih ya seharusnya…ga perlu mikir ribet-ribet mo nulis apa, nyusun + ngerangkai kata, benerin typo, dll; galau sedikit, tinggal post status. Ada yang mau baca/komen syukur, ga ada juga nggak terlalu peduli sih.

Tapi saya malah nggak cocok kayanya pake socmed2 yang trendy itu. Akun twitter contohnya…sampe sekarang tweet-nya cuma 700-an. Itu padahal akunnya udah dari taun 2009 (bulan Agustus tepatnya). Kalau kita itung-itungan sederhana: 700 tweet / 4 tahun = sekitar 175 tweet per tahun. 175 tweet setahun / 12 bulan = sekitar 14-15 tweet per bulan. Padahal sebulan ada sekitar 30 hari. :D

Skip..skip.

Sebenernya nasib akun facebook juga ga kalah miris. Selain jarang upload foto (upload foto paling kl ditagih temen), nge-post status juga jarang. Pas event ulang tahun Facebook yang ke-10 kemarin, Facebook membuat auto-generated video untuk setiap user yang isi video-nya berupa kumpula foto-foto di akun kita. Dan…bisa ditebak. Video akun saya mungkin salah satu yang paling menyedihkan isinya.

Akun path pun sama aja. Sejak dibuat di akhir tahun lalu, sampai sekarang nggak pernah dipake. Passwordnya aja udah lupa, mau nge-reset password udah keburu males duluan.

Kalau kata salah satu temen: ‘Biarin aja ga dipake, yang penting lu udah register-in username lu. Sapa tau entar-entar mau pake‘. Hmm…dipikir-pikir lagi…agak absurd sih alasannya. Dan semakin absurd karena saya ngikutin saran temen saya itu tadi.

- Random thought of the day: Ngapain juga punya akun socmed macem-macem kalau jarang dipake.

Kearns Blinking Eye Motor

“My name is Dr. Robert Kearns, and I’d like to start by talking to you about ethics. I can’t think of a job or a career where the understanding of ethics is more important than engineering. Who designed the artificial aortic heart valve? An engineer did that. And who designed the gaschambers at Auschwitz? An engineer did that, too. One man was responsible for helping save tens of thousands of lives, another man helped kill millions.”

Perkataan Dr. Robert Kearns yang saya kutip dari film Flash of Genius diatas mungkin bakal terdengar sedikit pongah bagi sebagian orang.

Akhir-akhir ini, saya lagi sedikit keranjingan untuk nonton film-film yang jenisnya based on true story atau inspired by true story.  Salah satunya film yang bercerita tentang seorang laki-laki bernama Robert Kearns.

Robert Kearns adalah seorang engineer yang menemukan sebuah alat yang dinamakan Kearns Blinking Eye Motor (sekarang lebih dikenal dengan istilah intermittent windshield wiper atau disingkat wiper).

Alkisah, pada tahun 50-an, wiper yang terinstalasi pada mobil belum bisa diatur kecepatannya. Tidak peduli hujan besar, gerimis, hujan moyan, dan hujan-hujan lainnya; kecepatan wiper selalu konstan.

Hal ini menimbulkan ide di benak Kearns: ‘Kenapa saya tidak membuat wiper yang bisa diatur kecepatannya?’ Idenya pun sederhana: Karena intensitas air hujan itu berbeda-beda.

Konon, pada masa itu, produsen mobil besar sekelas Ford atau Chrysler tidak berhasil membuat  wiper yang dapat diatur kecepatannya.

“We want you to do it with the engine running. We’ve found that the heat can play havoc with some of the systems we’ve tried.” – ujar salah satu anggota tim R&D Ford dalam salah satu scene film itu.

Dalam scene lainnya, diceritakan pula bagaimana ide Robert Kearnes ‘dicuri’ oleh produsen mobil sekelas Ford dan Chrysler. Hingga akhirnya, setelah perjuangan selama 13 tahun, Robert Kearns pun berhasil memenangkan gugatannya.

Dipikir-pikir, sebenernya masih banyak penemuan penting yang seringkali kita lupakan. Wiper adalah salah satunya. Padahal alat kecil ini yang biasanya terpasang pada kaca depan dan belakang mobil ini terbukti cukup mumpuni dikala mobil sedang melaju di tengah terpaan air hujan.

E-book gratis: Bermain Data dengan SQL Server

E-book ini sedikit bercerita tentang teknologi SQL Server 2005.

Dibuat pada akhir tahun 2009 dan selesai pada awal tahun 2010. Mudah-mudahan berguna bagi yang membutuhkannya.

cover visualization copy

Secara substansi mungkin masih banyak yang ditambahkan juga diperbaiki. Ya, namanya juga buku perdana. :P

| Unduh buku ‘Bermain Data dengan SQL Server’ |

Sebuah Perjalanan ke Desa Baduy

Desa Cikeusik

Kira-kira setahun yang lalu, saya sempat berkunjung ke beberapa desa suku Baduy. Kesan saya? Takjub, terkesan, dan bersyukur.

Lho? Kenapa? Takjub karena di jaman yang serba modern sekarang ini, ternyata masih banyak suku yang masih begitu teguh dalam memegang adat-istiadat mereka.

Bagaimana mereka menghormati alam yang telah memberi makanan pada mereka. Dan bagaimana mereka menjaga eksistensi budaya yang dimiliki. Saya cukup bersyukur, karena masih diberi kesempatan menyaksikan keragaman budaya di Indonesia ini.

Suku Baduy, merupakan salah satu suku Sunda Kuno yang bermukim di kaki Gunung Kendeng, Rangkas Bitung, Banten. Saat saya mengunjungi desa-desa ini, saya dan teman-teman harus menghabiskan sekitar 1/2 hari perjalanan hanya untuk mencapai 3 desa suku Baduy.

Menariknya, kami harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Lucunya, walaupun beberapa teman wanita sudah diperingati bahwa medan perjalanan akan becek, penuh aral melintang dan cobaan; toh, tetap saja ada yang menggunakan sepatu gaul untuk menempuh perjalanan. Walhasil selain lecet-lecet, perjalanan juga jadi terasa lebih menyiksa toh.

Suku Baduy berpendapat bahwa jika mereka harus merusak alam untuk keperluan sandang, pangan, papan mereka, maka mereka pun harus menggantinya dengan menanam tanaman baru.

Seandainya hal semacam ini diterapkan oleh pemerintah, tentu kota-kota di Indonesia akan lebih asri dan polusi udara pun dapat dikurangi.

Desa suku Baduy luar

Desa suku Baduy luar

Suku Baduy pada dasarnya terbagi menjadi 2 kelompok besar: suku Baduy dalam dan suku Baduy luar. Secara kasat mata, salah satu perbedaan yang paling kentara dari kedua kelompok ini adalah gaya hidupnya.

Baduy luar sedikit lebih modern dibanding suku Baduy dalam. Mereka masih diperbolehkan oleh ketua adat untuk menggunakan teknologi seperti lampu minyak, pisau yang dibeli dari luar, dan lain sebagainya. Bahkan beberapa kerajinan mereka dibuat untuk dipasarkan ke pengunjung yang datang. Seperti gelang, golok, caping (penutup kepala semacam topi), dan sebagainya.

Berbeda halnya dengan suku Baduy dalam yang benar-benar menggunakan kekayaan alam untuk membuat teknologi mereka sendiri. Mereka menggunakan kelapa untuk membuat ‘lilin’, membuat golok sendiri, menggunakan bambu untuk mengambil air, dsb. Perbedaan yang terlihat jelas dari kedua kelompok ini adalah warna baju yang digunakan oleh mereka. Suku baduy dalam menggunakan baju berwarna putih, sedangkan suku baduy luar menggunakan baju berwarna hitam.

Perjalanan singkat ke desa Baduy mengingatkan saya bahwa alam Indonesia begitu indah. Semoga suatu saat nanti, saya bisa melanjutkan eksplorasi keindahan alam-alam Indonesia  lainnya. Amin.

Membuat halaman contact-me pada wordpress

Beberapa teman saya mengeluhkan sulitnya membuat halaman contact-me/contact the author pada wordpress. Selain dikarenakan wordpress tidak mengijinkan pengguna layanan wordpress menggunakan javascript, beberapa orang tidak terbiasa untuk menggunakan tag HTML atau Javascript untuk membuat sebuah form contact. Akhirnya beberapa dari mereka membuat link mailto:xyz@blablabla.com, sayang sekali, hal ini tentu sedikit menyulitkan pengunjung yang ingin mengirimkan e-mail pada si empunya blog.

Ah, tapi jangan khawatir. WordPress sudah menyediakan fitur ini. Bahkan pembuatannya sangatlah mudah. Anda cukup menuliskan :

[ contact – form ]

pada sebuah halaman baru di wordpress. Oh ya, jangan menuliskan tag tersebut dengan spasi, saya menambahkan spasi, agar wordpress tidak menyangka saya ingin membuat form pada postingan ini. :) Buatlah sebuah judul ‘Contact the Author’ atau yang lainnya, sesuai keinginan Anda, maka sebuah halaman untuk mengirimkan e-mail pada si empunya blog pun langsung dibuat secara otomatis. Oh ya, saya pun sudah menyediakan layanan ini pada sisi menu di bagian paling atas blog ini. Untuk info lebih lengkapnya, silakan klik link ini. Semoga berhasil. :)

Belajar mengintegrasikan Flash kedalam WordPress di TVWOnline

Kalau Anda mempunyai plugin flash yang terintegrasi dengan browser Anda, coba Anda buka link ini. TVWOnline merupakan salah satu web yang menggunakan wordpress, namun jika Anda perhatikan semua contentnya digunakan dengan menggunakan Adobe Flash. Hmm.. menarik bukan?

Ya, saat ini WordPress, merupakan salah satu Blog/CMS template yang mulai banyak digunakan dalam pembuatan website. Selain mudah manajemennya, CMS ini juga cukup user friendly. Anda dapat dengan mudah mengatur artikel mana yang bisa dikomentari, serta artikel mana yang tidak bisa dikomentari. Sangat cocok bukan untuk membuat web jurnal atau koran online? Selain itu Anda juga dapat dengan mudah mengintegrasikan web ini dengan feed reader atau widget yang tersedia di internet, karena template yang disediakan kebanyakan memang sudah support akan hal ini. Plugin-plugin yang tersedia juga cukup banyak, mulai dari shoutbox, anti-spam, anti hotlinking, dan sebagainya. Saya rasa, hal inilah yang menyebabkan WordPress cukup banyak digunakan sebagai media untuk pembuatan sebuah website. :)

Nah, Tim Wilson, sang pemilik website ini (tvwonline) juga menjelaskan bagaimana proses pembuatan web ini dengan menggunakan Adobe Flash. Anda dapat mempelajari hal ini disini. Jadi, bagi Anda yang hobi ngoprek website ini, Anda dapat bereksplorasi lebih lanjut dengan mencoba apa yang disebutkan oleh om yang satu ini. :)

Doraemon Endings?

Tahu Doraemon kan? Ini salah satu tontonan yang lumayan awet diputar di hari Minggu sebelum beberapa tahun lalu benar-benar dihapus dari layar kaca.

Doraemon is sent back in time by Nobita Nobi’s great-great grandson Sewashi to improve Nobita’s circumstances so that his descendants may enjoy a better future. In the original timeline, Nobita experienced nothing but misery and misfortune throughout his life. As a result of this, Nobita’s failures in school and subsequently, his career, have left his family line beset with financial problems. In order to alter history and better the Nobi family’s fortunes, Sewashi intended to send a “super robot” to aid Nobita, but due to his meager allowance (beacause of the family’s financial problems), all he could afford was a 22nd-century toy – Doraemon – and a factory reject at that.

Iseng-iseng lagi browsingan, saya nemu satu cerita yang dibuat oleh salah seorang fans Doraemon (Nobuo Sato) mengenai ending dari kisah Doraemon. Dan sejujurnya, saya suka idenya. Monggo dinikmati:

Continue reading