Sabtu lalu (30/5), Bandung mulai melaksanakan Program Balad Kuring-nya berupa Car Free Day. Semula, program ini akan dilaksanakan di Jalan Dago, namun akhirnya dipindahkan ke Jalan Diponegoro karena kendala teknis.
Sebetulnya, saya berharap Jalan Dago bisa dilalui oleh pejalan kaki dengan bebas tanpa adanya intervensi kendaraan bermotor terutama angkot yang suka berhenti sembarangan dan bikin macet aja. Malah awalnya, saya pikir akan lebih seru kalau acara ini dilakukan sekitar pukul 16.00 WIB sampai malam hari. Pasti ‘gemerlap’ kota Bandung yang sempat hilang ketika acara-acara publik tidak lagi boleh dilakukan di sepanjang Jl. Dago bisa kembali lagi (dulu di Dago seringkali digelar acara-acara musik yang disponsori oleh radio lokal kota Bandung). Saya bisa jalan-jalan naik sepeda, mampir ke outlet-outlet sembari beli gorengan dan duduk-duduk di trotoar. Apalagi jam-jam segitu, Jl. Dago baru ‘mulai’ macet-macetnya, lantaran bertepatan dengan malam minggu. Tapi ya sudahlah, misi utamanya toh memang ingin menyelamatkan lingkungan. Jadi saya mendukung gerakan ini.
Sayangnya, ada pemandangan menyebalkan yang terjadi ketika program ini dilaksanakan. Saat saya sedang asyik berfoto-foto di tengah jalan sambil guling-gulingan, saya sempat kaget luar biasa ketika diklakson dengan kencang oleh sebuah mobil. Ya! Mobil itu adalah mobil patroli yang seharusnya menjaga pemblokan ruas Jl. Diponegoro. Semprul (dalam hati saya), ini car free day tapi kok model beginian masih ada aja ya.. Tidak lama kemudian, giliran motor patroli yang meng-klakson saya yang masih berfoto sambil guling-gulingan di tengah jalan. Aduh.. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat ulah para aparat keamanan tersebut.
Di sisi lain, saya senang bisa bertemu kawan-kawan lama yang sudah lulus maupun yang masih kuliah di acara tersebut. Sambil ngobrol-ngobrol dan minum Mizone (bukan ngiklan lho), karena cuaca memang mulai terik, kami menikmati teduhnya pepohonan sepanjang Jl. Diponegoro yang bisa dinikmati lengkap dengan alunan musik dari Mas Nugie. Acara ini mungkin ke depannya juga bisa jadi ajang silahturahmi dan menjadi tempat yang mewadahi aktivitas olahraga warga Bandung. Tapi saya masih berharap, siapa tahu, nanti bisa juga dibuat stand-stand dan acara-acara seperti yang terdapat di Pasar Seni ITB sambil menampilkan art performances di beberapa blok jalan. Pasti bakal lebih seru!

Image Courtesy of Rendy Maulana
Selamat! Semoga program-program seperti ini bisa berlangsung juga di ruas-ruas jalan lainnya dan kota-kota lainnya. Hidup Kota Bandung! Hidup Indonesia! (Apa sih ngga??!). Foto-fotonya nyusul ya…

















Komentar Terakhir